Senin, 24 Desember 2018

entah

Entah bagaimana aku teringat semua, kembali tertarik pada masa di kala baik tapi tidak baik baik saja. Seperti dipaksa oleh rasa yang mengajak pulang tapi tertahan oleh sebuah rencana yang mengubah nya tetap menjadi wacana.

begini saja singkatnya, aku rindu.

Minggu, 17 Desember 2017

Jika

Jika tidak bisa menari dalam hujan bersamaku
kamu tidak akan pernah bersamaku dalam badai
Dan
Jika tidak berada dalam badai bersamaku
aku juga tidak membutuhkan mu
dibawah sinar matahari.

Minggu, 05 November 2017

Agama dan Globalisasi

A. Pendahuluan
     Agama, dalam konteks keyakinan dan bagaimana agama di praktekkan merupakan masalah sosial dan sampai kapanpun dapat diidentifikasi dalam masyarakat. Akan tetapi praktek keagamaan berbeda dalam menjelaskan selayaknya menjelaskan struktur institusional sebagai keseluruhan sistem sosial. Berbeda dengan dengan masalah pemerintahan dan hukum, yang lazim menyangkut alokasi serta pengendalian kekuasaan, lembaga ekonomi yang yang berkaitan dengan kerja, produksi dan pertukaran. Masalah inti dari agama dianggap menyangkut hal yang mengandung “arti penting tertentu”, menyangkut masalah aspek kehidupan manusia.Agama dicirikan sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin. sebagai sesuatu yang memuliakan dan membuat manusia beradab. Tetapi di sisi lain agama dituduh pula sebagai penghambat kemajuan manusia, akar fanatisme dan sikap tidak toleran, pengabaian dan bahkan kesia-siaan. Tapi disisi lain, akibat perkembangan tekhnologi yang sedemikian rupa membawa dampak yang tidak dapat dielakkan. Perkembangan tekhnologi informasi dan komunikasi menjadikan seluruh dunia ada di hadapan kita, sehingga mempengaruhi seluruh sektor kehidupan kemanusiaan; seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Kemajuan di bidang tekhnologi informasi dan komunikasi inilah sebagai titik awal terjadinya globalisasi.

B. MENDEFINISIKAN AGAMA
   Dalam Islam kata agama merupakan arti dari kata “Ad- Diin” yang secara bahasa artinya taat, tunduk, dan berserah diri, yang berarti juga pengaturan hubungan manusia dengan Tuhan (vertikal) dan hubungan manusia dengan manusia, termasuk dengan dirinya sendiri dan alam lingkungan hidupnya (horisontal).
     Agama lahir di dunia ini sebagai berkah semesta. Agama mengajarkan kedamaian dan cinta, baik ke dalam diri maupun kepada semua mahluk. Ia membuat hidup manusia menjadi seimbang. Sekarang ini, agama telah menjadi organisasi global dengan ruang lingkup seluas dunia itu sendiri. Cabangnya ada di berbagai negara, baik agama yang diakui maupun yang tidak. Agama sendiri adalah institusi global yang lahir dari pengalaman mistik seseorang. Pengalaman mistik itu lalu berkembang menjadi ajaran, tata nilai dan jalan hidup tertentu.

  • Menurut A.M. saefuddin (1987), menyatakan bahwa agama merupakan kebutuhan manusia yang paling esensial yang besifat universal. Karena itu, agama merupakan kesadaran spiritual yang di dalamnya ada satu kenyataan di luar kenyataan yang namfak ini, yaitu bahwa manusia selalu mengharap belas kasihan-Nya, bimbingan-Nya, serta belaian-Nya, yang secara ontologis tidak bisa diingkari, walaupun oleh manusia yang mengingkari agama (komunis) sekalipun.
  • Menurut Sutan Takdir Alisyahbana (1992), agama adalah suatu system kelakuan dan perhubungan manusia yang pokok pada perhubungan manusia dengan rahasia kekuasaan dan kegaiban yang tiada terhingga luasnya, dan dengan demikian member arti kepada hidupnya dan kepada alam semesta yang mengelilinginya.
  • Perlu pula kita singgung pendapat August Comte yang memahami berpikir religius sebagai berpikir yang cendrung mencari jawaban yang mutlak tentang segala hal, seperti mengembalikan sebab segala peristiwa yang terjadi kepada kehendak Tuhan. Pola piker seperti ini amat primitif dalam perkembangan pemikiran manusia. Sedangkan Emile Durkheim mengemukakan esensi agama sebagai kehendak masyarakat, karena agama adalah ciptaan masyarakat. Di sisi lain Sigmund Freud mengatakan bahwa agama adalah ilusi manusia .
  • Dari sisi yang berbeda, Mircea Eliade menjelaskan akan independensi atau otonomi agama. Agama bukan hasil dari realitas yang lain, agama bukan suatu variabel dependen, akan tetapi agama harus dipahami sebagai yang mempenagruhi aspek-aspek kehidupan yang lain, sebagai variabel independen. Untuk menjelaskannya, Mircea Eliade membedakan antara kehidupan sakral dan profan.

Kehidupan sakral adalah aktifitas kehidupan yang disengaja, yang supranatural, mengesankan, yang substansial dan penting; teratur. Sedangkan yang profan adalah kebiasan yang dilakukan sehari-hari, yang seringkali berubah-ubah . Dari diskursus tentang agama di atas, diambil simpulan bahwa agama menyangkut seluruh sendi kehidupan manusia.

 C. Globalisasi 

     Kata “Globalisasi” itu berasal bahasa inggris yakni “Globalization” dimana global memiliki arti universal dan “lization” yang berarti proses. Jadi, secara kaidah bahasa maka kata “Globalisasi” yakni suatu proses pelebaran pada elemen-elemen baru baik gaya hidup, pemikiran teknologi maupun informasi dengan tanpa ada batasan negara atau mendunia.

  • Menurut Achmad Suparman bahwa pengertian globalisasi merupakan suatu proses yang bertujuan untuk menjadikan perilaku atau benda sebagai ciri-ciri atau penanda dan setiap individu yang ada dalam dunia ini tanpa adanya batasan dari suatu wilayah.
  • Menurut Martin Albrow  bahwa pengertian globalisasi adalah suatu seluruh proses yang dimana pada penduduk dunia akan dapat terhubung didalam sebuah komunitas dunia tunggal dan global.
  • Menurut Kartini Kartono dengan keniscayaan globalisasi, akan terjadi amalgamasi (sambungan, campuran, keluluhan) antara bermacam-macam kebudayaan yang kadangkala bisa berjalan lancar dan lembut. Akan tetapi tidak jarang berlangsung melalui konflik budaya yang mengakibatkan situasi sosial yang khaotis (kelompok-kelompok sosial yang tidak bisa dirukunkan atau didamaikan). Hal ini mengakibatkan banyak kecemasan, ketegangan, dan ketakutan di tengah masyarakat. Situasi sosial seperti ini mudah mengembangkan tingkah laku patologis/sosiopatik yang menyimpang dari pola-pola umum.

    Hal ini berakibat timbulnya kelompok-kelompok dan fraksi-fraksi di tengah masyarakat yang terpecah-pecah, masing-masing menaati norma-norma dan peraturannya sendiri, bertingkah semau sendiri. Iniilah yang mengakibatkan masalah sosial, tingkah laku sosiopatik, deviasi sosial, penyimpangan sosial, disorganisasi sosial, disintgrasi sosial dan diferensiasi sosial. Pada akhirnya tingkah laku menyimpang ini meluas dalam masyarakat, maka berlangsunglah deviasi situasional yang komulatif dalam bentuk; kebudayaan korupsi, kriminalitas yang semakin merajalela, diviasi seksual dan lain sebagainya.
D.FUNGSI AGAMA

     Agama dalam pandangan teori fungsional dalam kaitan dengan aspek pengalaman yang mentransendensikan sejumlah peristiwa eksistensi sehari-hari yang melibatkan kepercayaan dan tanggpan terhadap sesuatu yang berada di luar jangkauan manusia. Oleh karena itu secara sosiologis agama menjadi penting bagi manusia karena pengetahuan dan keahlian tidak berhasil memberikan sarana adaptasi atau mekanisme yang dibutuhkan. Agama menjadi penting sehubungan dengan pengalaman manusia selalu berhubungan dengan ketidakpastian, ketidakberdayaan dan kelangkaan yang merupakan karakteristik fundamental manusia.

Dalam konteks ini agama; pertama, sebagai cakrawala pandang tentang dunia yang tidak terjangkau oleh manusia (beyond), dalam arti, deprivasi dan frustasi dapat dialami sebagai sesuatu yang mempunyai makna. Kedua, sebagai sarana ritual yang memungkinkan hubungan manusia dengan hal diluar jangkauannya, yang memberikan jaminan dan keselamatan bagi manusia mempertahankan moralnya.

Thomas F. O’dea menyebutkan ada enam fungsi fundamental dari agama;

1. Agama mendasarkan perhatiannya pada sesuatu yang di luar jangkauan manusia yang berkaitan dengan takdir dan kesejahteraan, agama memberikan dukungan moral. Dukungan moral dibutuhkan saat menghadapi ketidakpastian, pelipur lara disaat menghadapi kekecewaan dan membutuhkan rekonsiliasi dengan masyarakat bila diasingkan dari tujuan dan norma-normanya. Karena dihadapkan dengan kekecewaan dan kebimbangan, maka agama menyediakan sarana emotional penting yang membantu dalam menghadapi unsure-unsur kondisi manusia. Dalam memberikan dukungannya, agama menopang nilai-nilai dan tujuan yang telah terbentuk, memperkuat moral dan membantu mengurangi kebencian.
Dalam konteks ini, agama menjadi penting perannya dalam memberikan kekuatan bagi manusia dalam memilih nilai-nilai dan norma-norma yang dianutnya dalam percaturan nilai-nilai dan norma-norma yang ada dihadapan akibat akses informasi dan transportasi yang demikian mudah untuk diakses.

2. Agama menawarkan hubungan yang transcendental melalui pemujaan atau ibadah. Pemujaan atau ibadah memberikan dasar emosional bagi rasa aman dan memberikan identitas yang lebih kuat di tengah ketidakpastian dan ketidakmungkinan kondisi manusia dalam perubahan. Melalui ajaran-ajaran yang otoritaf dan nilai-nilai, agama menyediakan kerangka acuan di tengah pertikaian dan kekaburan pendapat sudut pandang manusia. Fungsi ini menymbnag stabilitas, ketertiban dan seringkali mendukung terpeliharanya status quo. Berarti agama sebagai benteng dalam diri manusia untuk memberikan kekuatan.

3. Agama mensucikan norma-norma dan nilai-nilai masyarakat yang telah terbentuk, mempertahankan dominasi tujuan kelompok di atas keinginan individu dan disiplin kelompok diatas dorongan individu. Dengan demikian agama memperkuat legitimasi pembagian fungsi, fasilitas yang menjadi cirri khas suatu masyarakat. Agama juga melakukan fungsi dengan menyediakan cara-cara, seringkali berupa ritual, kesalahan dapat diampuni dan individu dilepaskan dari belenggu kesalahan dan disatukan kembali ke dalam kelompok sosial .
Dalam konteks ini, apa yang telah disebutkan Appaduray, ideoscapes, merupakan ancaman bagi keberlangsungan dan ketahanan norma-norma dan nilai-nilai yang ada di tengah-tengah masyarakat. Sebagai indikasi kea rah ini kita bisa melihat bagaimana norma-norma dan nilai-nilai yang telah mapan di nusantara telah mulai dimasuki oleh nilai-nilai dan norma-norma yang dating dari luar, terutama yang amat terasa sekali adalah pengaruh barat.

4. Agama dapat pula memberikan standar nilai yang baru terhadap norma yang telah terlembaga. Fungsi ini dikenal dengan fungsi risalah dan fungsi nubuwah. Dengan keberadaan wahyu atau risalah yang dimiliki agama, ia sebagai patokan dan ukuran masyarakat dalam melihat apa saja yang dating dari dunia lain dan hadir di hadapan dan keseharian.

5. Agama sebagai identitas. Agama memberikan individu rasa identitas pada masa lampau ataupun masa yang akan dating yang tidak terbatas. Agama meperluas ego manusia dengan membuat spirit manusia cukup berarti bagi alam semesta dan alam semesta cukup berarti bagi manusia .

6. Agama bersangkut-paut dengan pertumbuhan dan kedewasaan individu dalam perjalanan hidup melalui tingkat usia yang ditentukan oleh masyarakat. Pertumbuhan individu menghadapi serangkaian karakteristik yang terjadi pada berbagai tingkat usia manusia, serangkaian peristiwa yang dijumpai dari sejak lahir sampai mati. Masing-masing peristiwa atau masalah-masalah baru menantang individu dalam setiap jenjangnya (dari lahir sampai mati).

E. PENUTUP
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa agama sesuatu yang mempengaruhi seluruh sendi kehidupan manusia mempunyai peran yang sangat penting membentengi umatnya dari pengaruh negatif globalisasi, karena agama memiliki sarana untuk memecahkan masalah akibat pengaruh negative globalisasi. Sarana dimaksud adalah; agama mengidentifikasikan individu dengan kelompok, menolong individu dalam ketidakpastian, menghibur ketika dilanda kecewa, mengaitkannya dengan tujuan-tujuan masyarakat, memperkuat moral dan mengaktualisasikan unsur-unsur identitas.

Agama juga bertindak menguatkan kesatuan dan stabilitas masyarakat dengan mendukung pengendalian sosial, menopang nilai-nilai yang mapan dan menyediakan sarana untuk mengatasi kesalahan dan keterasingan. Lebih jauh agama dapat melakukan peran risalah dan membuktikan dirinya sebagai sesuatu yang tidak terpecahkan




Jumat, 03 November 2017

This is my brevity

Holla! 

 Blog ini ada karena terinspirasi oleh guru sastraku dimasa SMA

Cuma mau memberi sedikit info aja saya suka bahasa karena bahasa bisa mengubah apa yang ada di logika jadi gak masuk logika. Walaupun aslinya bahasa saya masih acak-acakan kaya gini tapi I'll still try to be better.

more info about me u can follow;

instagram : @magfiratuv
gmail        : maghfiratulfa@gmail.com

entah

Entah bagaimana aku teringat semua, kembali tertarik pada masa di kala baik tapi tidak baik baik saja. Seperti dipaksa oleh rasa yang mengaj...